Seperti biasa, secangkir kopi hitam menemani kami senja ini.
Rentetan beritapun mengabarkan perkembangan terkini dari segala aspek kehidupan anak bangsa.
Kamipun dibuat jemu dengan suguhan-suguhan kabar tentang para politisi yang bertengger di senayan sana, dari satu kasus ke kasus lainnya, dari satu rumor ke rumor lainnya, seolah tak mampu melepaskan diri dari mendung yang menghinggapi awan perpolitikan indonesia, para politisi yang mengklaim dirinya wakil rakyat tersebut berlomba-lomba menjadikan diri mereka fir`aun di negeri ini.
Artis Telenovela Yang Bertengger di Senayan
Sisi Gelap Kota Lumbung Padi
Pukul 3.36, aktivitas kota karawang belum menunjukkan lelahnya. Para ibu berseliweran menyambangi pasar-pasar yang sedang menjajakan kebutuhan pangan keluarga-keluarga di karawang.
Bersamaan dengan itu pula para tukang ojek berseliweran menjajakan jasa untuk mengantarkan mereka yang baru memulai aktivitas di pagi hari ini atau yang akan menutup aktivitasnya hari ini.
Kau (DPR)Tumpahkan Dimana Rasa Malumu Itu
Terhenyak saat melihat berita bahwa Badan Anggaran (Banggar) DPR RI telah menghabiskan Dana Rp 20 Miliar (Duit Semua ya?) hanya untuk merenovasi ruangan rapat mereka. Di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Banggar DPR yang berfungsi mengatur alokasi dana Negara, mereka (Baca : Banggar DPR) malah terus ingin membuat nyaman kantor mereka saja. Apa mungkin dengan kenyamanan yang mereka inginkan akan membuahkan hasil kerja yang optimal bagi masyarakat Indonesia ? (Koq ogut optimis ya? optimis enggak bakalan)
Jaringan Teroris Adalah Jaringan Orang-Orang Yang Tertindas
Aksi bom yang meresahkan masyarakat kembali menyeruak di tanah pertiwi ini, setelah kita dikejutkan dengan pengiriman paket bom ke berbagai tokoh yang menjadi tokoh simbolik di bidangnya masing-masing, kemudian kita dikejutkan dengan aksi bom bunuh diri yang menghantam Mesjid Polresta Cirebon saat dilangsungkannya shalat jumat.
Serta yang paling terkini adalah rencana peledakan jalur pipa gas negara di dekat sebuah katedral yang berlokasi di Tangerang. Rencana peledakkan ini diperkirakan oleh banyak kalangan adalah pada saat umat Kristiani merayakan Paskah Agung, namun pihak kepolisian lebih dulu mendeteksi rencana tersebut sehingga kemudian mampu menemukan dan menjinakkan bom berdaya ledak tinggi tersebut sehingga rencana aksi teror tersebut dapat digagalkan.
Dari serangkaian bom yang terjadi dan keseluruhan aksi teror yang melanda Indonesia bisa diibaratkan “mencukur bulu jenggot, saat ini di cukur esok harinya tumbuh lagi dengan lebih banyak”. Terus menerus seperti itu, pemerintah pun seolah tak memiliki solusi utuh atas persoalan aksi teroris yang dilakukan oleh jaringan ekstrimis tersebut walaupun sudah memiliki UU terorisme dan telah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT).
UN = pertaruhan masa depan generasi bangsa
Ujian akhir nasional, tiga kata inilah yang saat ini menjadi momok yang sangat menakutkan bagi pelajar-pelajar yang duduk di sekolah menengah pertama atau menengah atas. Saat mulai menduduki kelas akhir mereka langsung mendapatkan hantu yang berupa standar nilai kelulusan yang harus mereka capai. Tentu hal ini memiliki dampak positif dan negative bagi siswa tersebut, selain itu banyak sekali fenomena yang terjadi pasca pemerintah menetapkan kebijakan ini pada tahun ajaran 2003 yang pertama kali diberlakukan.
Sekolah adalah sebuah batu loncatan dalam memperoleh masa depan yang tentunya banyak dimiliki oleh setiap orang, dalam keadaan yang semakin menekan masyarakat kecil ditambah dengan segala biaya yang selalu berganti harga menambah daftar penderitaan. Kini ancaman versi lain pun tengah bergejolak dengan standar nilai kelulusan tentu menjadi sebuah hal yang akan menentukan masa depan seorang warga Negara Indonesia.
Seiring perjalanan selama empat tahun ini berbagai polemik pun salah silih berganti menyangkut hantu yang bernama standar nilai kelulusan ini, dimulai dengan banyaknya peristiwa siswa yang melakukan bunuh diri karena tidak lulus, serta depresi yang banyak melanda serta banyak hal lainnya. Dengan singkat kata “standar nilai kelulusan” ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
Jangan Mengatas namakan Agama Dalam Aksi Kekerasan
Aksi kekerasan yang mengatas namakan Agama kembali terjadi, setelah aksi penusukan seorang pendeta di bekasi kemudian peristiwa terkini adalah aksi penyerangan jamaah Ahmadiyah yang sedang melakukan shalat dan pengajian yang baru saja terjadi di Cikeusik,Banten 2 hari yang lalu.
Peristiwa terakhir ini tentu saja tidak hanya melukai jamaah Ahmadiyah secara fisik, tetapi kami sebagai umat Islam yang meyakini bahwa Islam adalah Rahmattan Lil`alamiin serta umat yang senantiasa merindukan perdamaian merasa terlukai secara perasaan.
Andai Aqidah yang menjadi alasan untuk membenarkan aksi kekerasan tersebut, maka secara tidak langsung pelaku kekerasan yang menyerang Jamaah Ahmadiyah tersebut sudah merasa paling benar dalam urusan aqidah.
Kami merindukanmu
Islam yang kau dahulu dakwahkan kepada kami yang terceritakan melalui Sirahmu dipenuhi dengan kelembutan, saling menyayangi antar sesama bahkan dengan umat lain yang mendustakanmu dan menghinakanmu, tapi engkau begitu tegas dan keras dalam menyikapi segala bentuk pendzoliman dan pembodohan yang dialami oleh umatmu dan umat lainnya, engkau melindungi manusia lain yang tak mengakui kenabianmu, engkau memperlakukan mereka layaknya saudaramu sendiri. Engkau selalu berada di depan kami dalam menghadapi pendzoliman. Dengan setia engkau menyuapi pengemis buta disudut jalan itu setiap hari.
Tapi kini Islam yang kau wariskan kepada kami selalu dipandang sebagai ajaran yang menyukai kekerasan. Ajaran yang tak mampu memandang perbedaan secara bijak, Islam yang amat mudah terprovokasi, Islam yang memaksakan pandangan terhadap sesuatu, serta Islam yang mudah mencaci, memaki, menghukumi bahkan sesama saudara kami sendiri mudah saling mengkafirkan.
Gaji Tinggi Bukan Jaminan Kejujuran
Rasanya belum selesai kita dikagetkan oleh badai Gayus, seorang pegawai pajak golongan A3 yang mampu mengungkapkan bahwa system birokrasi kita amat bobrok. Hal ini ibarat dua mata pisau yang tajam, apakah aparat birokrat yang tak memiliki keloyalan terhadap kejujuran. Dengan masih mengindahkan kaidah dalam kesalahan berpikir yakni over generalization kami masih meyakini bahwa masih ada aparat yang menjunjung tinggi kejujuran (berani hidup apa adanya), tapi mereka seolah berada dalam pusara angin korupsi yang semakin tinggi. Hari gini ga nilep? Elo ga pinter, begitulah kira-kira mitos yang terbangun.
Selain tingkat keloyalan aparat terhadap kejujuran, satu sisi mata pisau lainnya adalah system kebirokrasian yang masih perlu dievaluasi terus menerus, system birokrasi yang kita miliki saat ini begitu mudah untuk di curangi oleh para aparat dalam birokrasi atau orang lain diluar jajaran birokrasi yang memiliki kepentingan, kalo ada duit urusan ma birokrasi lancar. Begitulah kalimat yang keluar dari mulut para pemilik kepentingan.
Teri Terkaya Dalam Spesies Ikan (Teri Gayus Tambunan)
Teri yang saya maksud diatas bukanlah ikan teri yang biasa kita jumpai di pasar tradisional, bukan juga ikan teri yang digunakan oleh para pemuda desa dalam menghabiskan malam minggu dengan membuat nasi liwet tradisional.
Teri ini begitu fenomenal setelah gayus tambunan mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah seorang ikan teri pada saat persidangan dirinya, ia juga mengungkapkan bahwa ada kakap dibelakang ke-teri-annya tersebut, sebenarnya Indonesia ini sebuah Negara manusia atau Negara di dunia laut? Hehe.
Semenjak dihembuskan oleh “Sang Peniup Peluit” Komjen Susno Duadji yang melakukan pemberontakan tunggal di tubuh Polri yang pada akhirnya dengan cara dijebloskan penjara dengan tuduhan suap dan korupsi. Saat itu muncullah nama Gayus Tambunan menjadi sangat fenomenal di seantero negeri ini.
Pertarungan Hasrat Dan Valentine
Rasa kantuk mulai bergelayutan dimata, tapi otak saya masih ingin berpikir dan memerintahkan jari saya untuk mengetik, kadang apa yang ingin ditulis mengalami lost connection dalam beberapa saat. Sebuah virus connection bagi manusia yang disebut malas.
Beristirahat memang hal yang sangat manusiawi bagi seorang manusia, namun sekali lagi otaklah yang memerintahkan semua indera manusia untuk melakukan sesuatu. Disinilah berperannya proses afirmasi yang d instalkan oleh otak melalui jaringan-jaringan syaraf indera kita. Bukanlah hal mustahil apabila mampu melampaui kemampuan manusiawi kita.
Pertarungan antara malas dan hasrat positif (menulis), selalu menjadi ujian awal bagi saya sebagai pemula di dunia blogging untuk menelurkan sebuah tulisan. Pertarungan antara hasrat posistif dan hasrat negative akan selalu terjadi setiap saat dalam diri seorang manusia.
Kecenderungan akal yang dipengaruhi oleh struktur logika sebagai pondasi kemudian konstruksi bangunan yang terbangun melalui informasi (ilmu pengetahuan, keyakinan, pemikiran yang mempengaruhi, dan sebagainya) akan menentukkan hasil dari pertarungan tersebut, demikian halnya dengan penentuan identitas diri yang akan kita pilih, apakah kita akan memilih untuk menjadi seorang tiran layaknya Housni Mubarrak, Soeharto, SBY atau yang lainnya. Atau kita ingin mengikuti perayaan orang lain yang kita sendiri tak mengetahui landasan sebab, tujuan, dan misi perayaan tersebut (perayaan yang saya maksudkan disini adalah perayaan valentine day yang sedang digandrungi oleh di kalangan remaja Indonesia) sehingga hanya sebatas ikut-ikutan.
Intrik Permainan Hukum dan Politik Indonesia
Huyaaaa…. Kata itu yang saya ucapkan di pagi ini. Menyalakan PC kemudian menyusun Playlist music di winamp agar adrenalin saya mulai terpacu. Awalnya bingung mau mencari topic apa yang menarik untuk mengupdate blog, tapi saya menemukan berbagai hal yang menjadi top list interest saya. Itulah yang saya lakukan pagi ini.
Sekedar memberikan opini, saya coba mengelaborasikan topik-topik yang sedang menarik perhatian masyarakat dalam sebuah sikap general agar saya dan masyarakat tak terjebak dalam tatanan berpikir particular.
Saya ingin memulai opini saya ini dengan mengulas top rank interest saya. Ketidak jelasan proses verifikasi bakal calon ketua umum PSSI menjadi top rank topic bagi saya, alasan saya dalam ketertarikan ini bahwa PSSI sebagai induk organisasi olahraga yang digemari oleh seantero negeri, berubah atau mengembangkan dirinya sebagai kartel mafia judi.
Sekretariat Gabungan Atau Sebuah Kasino Judi ?
Rangkaian isu yang menjadi sumber pemberitaan media akhir-akhir ini begitu cepat berganti, aliran isu tersebut mengalir di dua koridor ; politik dan hukum. Media seakan tak pernah kehabisan pemberitaan dengan cepatnya peralihan isu ini, akan tetapi saking cepatnya peralihan isu tersebut membawa dampak negative terhadap masyarakat.
Masyarakat akan sulit mencapai obyektivitas sebagai identitas politik yang menjadi warga Negara Indonesia. Masyarakat mulai kehilangan fokus atas fungsi control terhadap pemerintah, sedangkan lembaga perwakilan rakyat yang secara prosedural memiliki fungsi controlling tak mampu menjalankan fungsinya secara substantif dan bahkan lembaga perwakilan rakyat tersebut merubah dirinya menjadi gerbong dalam kereta tarik-menarik kepentingan partikular.
Malangnya Nasibmu Opung
Kaget, emosi, tak menyangka. Begitulah kira-kira ungkapan yang bisa mewakili perasaan saya siang itu.
Selepas shalat Jum`at seperti biasanya saya menyeduh segelas kopi hitam, lalu dengan spontan saya menyalakan televisi yang dilanjutkan dengan mencari channel yang masih menayangkan berita.
Saat itu muncullah sebuah berita di salah satu televisi swasta yang saat ini sedang terancam diboikot oleh Seskab DIpo Alam (bentuk personifikasi tiran pemerintahan SBY).
Televisi swasta tersebut menayangkan pemberitaan soal nenek berusia 90 tahun yang telah divonis bersalah atas kasus pencurian jagung di kebun miliknya sendiri.
Sontak saya pun memperhatikan berita itu, sambil mengunyah daun sirih Opung Managara mengungkapkan bahwa saat ini dirinya sangat malu terhadap tetangga sekitar akibat kasus pencurian jagung di kebun milik sendiri yang dituduhkan kepadanya.
Meragukan Komitmen dan Ketegasan Politik SBY
Dengan muka berseri-seri Panglima Tinggi Bakrie Group atau yang lebih akrab disapa Ical keluar dari Istana Presiden menuju mobil pribadinya. Kedatangan Ical ke Istana Presiden terkait perihal pembahasan keadaan di Sekretaris Gabungan Koalisi (Setgab Koalisi) akhir-akhir ini.
Akan tetapi menurut pandangan saya, Istana Kepresiden adalah milik bangsa Indonesia serta penggunaannya pun diperuntukkan bagi kepentingan bangsa Indonesia, dengan melakukan komunikasi politik di Istana Kepresidenan apakah dilakukan untuk kepentingan bangsa atau hanya kepentingan sebagian kelompok saja dalam hal ini partai koalisi. Mari kita pikirkan bersama saudaraku sebangsa dan setanah air.
Alam Pun Menunjukkan Pesannya
Siang tadi sekitar pukul 14.26 WIB, Jepang diguncang oleh gempa berkekuatan 8,9 SR yang kemudian disusul oleh arus tsunami setinggi 6 meter. Media elektronik pun memprediksikan 20 Negara akan mengalami hal serupa termasuk Indonesia Bagian Timur. Langkah-langkah antisipasi pun tengah dilakukan oleh daerah-daerah Timur Indonesia yang disinyalir akan terkena dampak tsunami yang berawal di laut timur perairan Jepang itu. Serta BMKG pun terus memantau arus tsunami agar msyarakat mampu melakukan pnyelamatan tepat pada waktunya. Sejumlah pengamat pun mengkategorikan bencana gempa dan tsunami kali ini adalah terbesar selama 20 tahun ini. Hal ini pun mengingatkan kita pada memori tentang bencana serupa yang terjadi di Aceh beberapa tahun silam.
Bom Buku Dan Kekerasan Lainnya Membungkam BIN
Ditemani secangkir kopi hitam, kali ini saya pusatkan perhatian pada semakin menurunnya kepercayaan masyarakat pada penjaminan keamanan dari pemerintah.
Periode awal 2011 ini saja masyarakat sudah menyaksikan bagaimana tindak kekerasan yang dialami oleh pengikut Ahmadiyah, penyerangan dan pembakaran gereja yang terjadi di Magelang serta yang teraktual adalah aksi bom buku.
Lalu dimana peran inteljen yang konon bertugas untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan di teritorial Negara Indonesia?
Dari serangkaian peristiwa kekerasan yang telah terpublikasikan oleh media, menunjukkan fakta unik bahwa alur peristiwa kekerasan yang terjadi sering kali dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama.
Tentu jika peristiwa kekerasan ini dilakukan by design maka seharusnya pihak inteljen mampu mendeteksi sejak dini sebuah rencana kekerasan yang sedang atau telah didesign. Oleh karena itu, langkah-langkah preventif dalam koridor penjaminan rasa aman dari pemerintah kepada warga negaranya bisa berjalan.
Urgensi Pluralitas Dalam Kehidupan Berbhineka Tunggal Ika
Rangkaian-rangkaian peristiwa yang dilalui bangsa ini semakin memupuk rasa keprihatinan di sanubari anak bangsa, gesekan-gesekan horizontal semakin sering ditampilkan oleh pemuka Negeri ini dalam panggung elitisme politik.
Bahkan elemen kedaulatan yang sepenuhnya berada di tangan rakyat telah mengalami dislokasi manifestasi yang selalu mengalami pengatas namaan demi kepentingan segelintir atau sekelompok orang. Rangkaian cerita politik, hukum, dan keamanan mampu mengungkap kelemahan integritas pemuka negeri ini seperti yang tergambarkan dibawah ini.
Ketidak berdayaan bangsa ini yang terpersonifikasi oleh pemerintah tak mampu untuk menunjukkan dignity terhadap negara lain semakin menambah keprihatinan yang telah tertimbun tak tersuarakan secara holistik.
Selamatkan Generasi Bangsa Dari Perilaku Korupsi
Korupsi !!! itulah sebuah istilah yang sering membayangi kehidupan sehari-hari kita. Kata yang sering kita dengar melalui berbagai macam media massa ini cukup memberikan sebuah bayangan tentang perilaku moral para penguasa dan pejabat Negeri ini. Reformasi 98`lah yang menjadi tonggak mencuatnya kata korupsi ke permukaan sehingga dikenal luas oleh masyarakat, sedangkan sebelum terjadinya reformasi 98` kata ini seolah kata tabu yang haram hukumnya untuk diungkapkan pada masa itu. Kemudian jika ada seseorang yang berani menyatakan dengan lantang menggunakan istilah korupsi maka akan terancam subversif bahkan hilangnya nyawa. Sementara secara terminologi kata korupsi sendiri berasal dari bahasa latin yaitu “corruptio” yang diadopsi ke dalam bahasa indonesia yang memiliki beberapa pengertian dasar yakni sebagai berikut :
Jangan Ngonde Pak Beye, Jangan Dibonsai KPK Kami.
Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Nusantara ini beberapa tahun silam mampu menjadi penghilang rasa haus dahaga masyarakat terhadap pemberantasan korupsi yang semakin menjadi dari tahun ke tahun.
Modus yang digunakannya pun semakin beragam, seolah seperti perlombaan, para pejabat Negara yang memang menjadi objek pengawasan KPK terus menunjukkan sikap-sikap koruptif.
Video Lipsync Yang Mengingatkan Tertawa Sebagai Manusia
Dari kemaren kebelet banget pengen nulis (ngupdate) blog, tapi entah kenapa mata saya tak mampu menangkap persepsi menarik untuk saya pikir dan renungkan. Tidak bermaksud untuk melakukan justifikasi penting atau tidak penting pada setiap kasus yang terwartakan oleh Mass Media akhir-akhir ini, hanya saja akal yang saya miliki mengelompokkan kasus yang diwartakan atau terekam oleh raga inderawi akhir-akhir ini sebagai hal yang menjadi ruitinitas banal semata.
Manusia perampok uang nasabah, manusia penipu dengan modal skill komunikasi, pembangunan gedung wakil yang tak mewakili rakyat (pengisapan secara massal uang Negara) oleh para manusia elit jakarta, manusia penggila kekuasaan di sepakbola, manusia narsis yang selalu mencitrakan dirinya sebagai manusia santun, bersahaja, mewakili kepentingan bangsa dan seterusnya.
Orang Kecil dengan Karya Besar
Hampir dua pekan ini, kita telah menikmati kreatifitas yang ditampilkan oleh seorang Briptu Norman, Seorang polisi Gorontalo yang terkenal melalui aksi lipsync lagu chaiya-chaiya.
Menjelang kepulangannya ke Gorontalo esok hari (menurut berita infotainmet tadi sore), saya hendak memberikan beberapa catatan selama Briptu Norman berada di Jakarta.
Yang pertama adalah aksi video lipsync briptu Norman amat kontras jika dibandingkan dengan penampilan di layar televisi (atau televisi saya yang bermasalah), kekontrasan performance ini mungkin bisa disebabkan beberapa faktor.
Faktor yang paling mungkin mempengaruhi performance adalah belum biasanya Briptu Norman menghadapi kamera (biasanya yang dihadapin hanya sebatas kamera handphone), faktor memungkinkan lainnya adalah perlakuan masyarakat terhadap Briptu Norman di berbagai kesempatan (maklum saja karena biasanya yang mengelu-elukan Briptu Norman hanya pacarnya) atau bisa disimpulkan kaget dengan popularitas yang didapatkannya.




Dentuman bom, desingan peluru serta cahaya-cahaya rudal pemburu pesawat jet tempur kini menjadi pemandangan rutin di langit Libya. Ya, perang sedang berkecamuk di negeri yang memiliki sumber daya minyak bumi terbesar ketiga di dunia itu. Adalah sebuah trend perubahan tatanan pemerintahan yang sedang melanda Timur Tengah menjadi sebab awal terjadinya gejolak di Libya. 










